What is Imagining Jakarta ?

January 28, 2007

logo-ijkecil.giffrontpage hit counter

Is Jakarta a failing metropolis?

Imagining Jakarta feels that Jakarta has never been given a chance to succeed. Her potentials, including even ones that might arise from her problems, if understood correctly, have yet to be given ample space and momentum, vis-à-vis a way of developing that lacks discourses, perspectives, imaginations, and participations. The existing plans and “projects” tend to avoid the heart and the true scale of the matter.

Jakarta is not failing; rather, it has never been given a chance to succeed.

Although she has made many people frustrated, Jakarta metropolis is still offering cosmopolitan opportunities, providing sources of hopes to increasingly more people who will invariably depend on her in many aspects of their life: work, market, public, power, lover, limelight and hide-outs, existence and anonymity, edu- and infotainment, illusion and disillusion, victory and remorse. People never stop hoping. The problems and, at the same time, the potentials of this city lie exactly in the energy derived from the ever increasing hopes that people place on her. The hopes are based on imaginations, be they individual or collective. Perhaps it is also imaginations that are needed in order to able to realize these hopes.

blorak.jpg

Imagining Jakarta believes that imagination is the springboard to fly higher up in order to gain wider perspectives, and simultaneously to dive deeper in order to see what lies under the surface. Imagination is the passport to allow possibilities and potentials to have their chances. Imagining Jakarta manages shadows of possibilities: “What if all of those possibilities are really given their chances?”

Imagining Jakarta tries to present into the public sphere personal imaginations about the collective hopes for Jakarta. Imagining Jakarta offers an alternative method to experience Jakarta; one that not only serves as a source of ideas, but also as a space for interdisciplinary dialogues, among writers, artists—graphic designers, photographer, sculptors—and architects, all of them are from the younger generation. Twice a month, from morning to evening, June to August, they meet in a series of workshops. They explain their preliminary ideas, they give critiques and references, whether in the forms of examples of projects, works of others, or data collected from other institutions or data that are specifically collected for Imagining Jakarta.

workshop3_08.jpg

As its initial standing stone, Imagining Jakarta believes in the programmatic density (and is against the mere volumetric cramming that ignore diversity), wishes Jakarta to be a “city of life” (and is against the negative power that turns her into a mere “city of work”), hopes for her spaces to become creative spaces, considers mobility as social, cultural, and economic rights, and aims for the environmental sustainability as a goal.

Imagining Jakarta asks us all to imagine other possible Jakarta’s. Therefore, it also entreats that all projects about Jakarta be disclosed before the public, so that these projects can enter the process of collective imaginations and be realized with the participation of the public. Imagining Jakarta wishes to reveal dialogues about the values that emerge along with the process of producing the artifacts of the city.

Bahasa Indonesia

jokodetail01.jpg

Apakah Jakarta sebuah metropolis yang gagal?

Membayangkan Jakarta merasa menemukan bahwa Jakarta belum pernah diberi kesempatan untuk berhasil. Potensi-potensinya, bahkan dari masalahnya sendiri, bila dimengerti dengan benar, belum pernah diberi ruang dan momentum yang cukup oleh cara membangun yang miskin wacana, miskin perspektif, miskin imajinasi, miskin partisipasi. Rencana dan “proyek” yang ada cenderung menghindari pokok dan skala masalah yang sesungguhnya.

Jakarta bukan gagal, melainkan belum pernah diberi kesempatan untuk berhasil.

Meskipun telah membuat banyak orang frustrasi, metropolis Jakarta tetap menawarkan kesempatan kosmopolitan yang menjadi sumber harapan kepada makin banyak orang, yang niscaya tetap tergantung kepadanya dalam banyak aspek kehidupannya: pekerjaan, pasar, khalayak, kekuasaan, kekasih, sorotan lampu dan persembunyian, eksistensi dan anonimitas, edu- dan infortainement, ilusi dan disilusi, kemenangan dan penyesalan. Orang tidak pernah berhenti berharap. Justru masalah dan sekaligus potensinya ada pada energi dari makin besarnya harapan yang ditumpangkan kepadanya. Harapan-harapan ini didasarkan pada imajinasi-imajinasi, baik yang individual maupun yang kolektif. Barangkali imajinasi pulah yang diperlukan untuk mewujudkannya.

paul01.jpg

Membayangkan Jakarta percaya bahwa imajinasi adalah papan-loncat untuk sekaligus terbang lebih tinggi guna memperoleh perspektif yang lebih luas, dan menukik menyelam lebih dalam guna melihat di bawah permukaan. Imajinasi adalah paspor untuk mengijinkan kesempatan kepada kemungkinan-kemungkinan, potensi-potensi. Membayangkan Jakarta mengelola bayangan-bayangan kemungkinan: “bagaimana kalau semua itu sungguh diberi kesempatan?”

Membayangkan Jakarta mencoba menayangkan imajinasi pribadi tentang harapan kolektif atas Jakarta ke dalam ruang khalayak. Membayangkan Jakarta menawarkan metoda alternatif untuk menyelami Jakarta, bukan hanya sebagai sumber ilham, tetapi juga ruang dialog antar-disiplin antara para penulis, perupa yang terdiri dari perancang grafis, fotografer maupun pematung dengan para arsitek, yang seluruhya dari generasi muda. Sebulan dua kali, dari pagi hingga petang, mulai bulan Juni hingga Agustus, mereka bertemu dalam serangkaian lokakarya. Mereka membeberkan gagasan-gagasan awal, memberikan kritik, hingga acuan-acuan, baik berupa contoh proyek, karya orang lain maupun hasil pengumpulan data, baik yang didapatkan dari lembaga lain maupun yang khusus dikumpulkan untuk Membayangkan Jakarta.

supie02.jpg

Sebagai pijakan awal, Membayangkan Jakarta percaya kepada kepadatan programatik (dan menentang pemadatan volumetrik semata yang menafikkan keragaman), menginginkan Jakarta sebagai “kota kehidupan” (dan menentang daya negatif yang menjadikannya “kota kerja” semata), mengharapkan ruangnya sebagai lingkungan kreatif, menganggap mobilitas sebagai hak sosial, budaya dan ekonomi, dan mencita-citakan kelestarian lingkungan sebagai tujuan.

Membayangkan Jakarta mengajak kita semua membayangkan Jakarta-Jakarta lainnya. Dengan demikian ia juga mengisyaratkan bahwa setiap proyek tentang Jakarta seharusnyalah dibuka di hadapan khalayak agar dapat memasuki proses imajinasi kolektif dan dapat dicapai oleh partisipasi khalayak. Membayangkan Jakarta berharap memunculkan dialog nilai-nilai menyertai proses produksi artefak kota.

Kurator : Rifky Effendy

Pengarah Loka Karya: Marco Kusumawijaya

Get the book of Imagining Jakarta

bukuij04.jpg bukuij03.jpg

supporter:

logocemara.jpg logogoetheclr.jpg logohivos.jpg nurindoprints.gif

contact:

Rifky Effendy

Cemara 6 Galeri. Jl. HOS. Cokroaminoto 9 – 11. Jakarta 10350

e-mail : rifky68@yahoo.com