Press

from KOMPAS Daily Newspaper
Sabtu, 23 Oktober 2004
 
 
 
Membayangkan Jakarta di Masa Depan…

SIAPA pun yang pernah singgah, berlibur, atau tinggal di Jakarta pasti dapat menyebutkan kesan maupun pesan masing-masing tentang kondisi Kota Metropolitan ini. Kesan-kesan itu terungkap dari yang paling sederhana hingga paling kompleks. Apalagi hiruk-pikuk, kesibukan masyarakat, kenikmatan, dan kekerasan hidup di Jakarta selalu memberikan kesan tersendiri.

YANG paling sederhana, misalnya, Jakarta itu kota macet. Setiap hari, kita menemui antrean kendaraan di seluruh pelosok Ibu Kota Negara ini. Sebagian persoalan kemacetan lalu lintas seakan terhenti sejenak, terutama pada hari Minggu atau hari libur nasional.

Berangkat dari kondisi sehari-hari itulah, sejumlah seniman mencoba berkolaborasi dengan para arsitek menampilkan sebuah pameran dengan tajuk “Membayangkan Jakarta”. Pameran digelar di Galeri Cemara 6, Menteng, Jakarta Pusat, sejak 9 September dan akan berakhir 29 Oktober.

Pameran menampilkan sejumlah karya yang intinya menyampaikan pesan bahwa pembangunan Jakarta haruslah melibatkan warga.

Memasuki ruang pameran yang tidak terlampau besar, pengunjung langsung menjumpai karya Gregorius Supie Yolodi berjudul “Labirin dan Keseimbangan”. Karya seni itu digambarkan dalam bentuk kubus besar yang dililit-lilit selang air tipis. Dari setiap sisi, pengunjung disuguhkan kelugasan Supie Yolodi dalam memperlihatkan kehidupan di Jakarta.

Tanpa sadar, warga Jakarta telah dikepung pasar dan pusat perdagangan. Lalu, aneka tulisan berupa iklan, pamflet, kampanye, hingga peringatan- peringatan sederhana, seperti larangan parkir. Ada juga yang tertulis, “Jangan parkir di sini jika mobil Anda tidak ingin rusak.”

Sisi sosial rakyat kecil pun ditunjukkan, bagaimana pedagang kaki lima harus berjuang hidup di Jakarta. Bayangkanlah, mereka cuma menempati ruang sisa.

Bagi Supie yang banyak menangani proyek-proyek arsitektural di berbagai daerah di Indonesia, baik untuk perkantoran maupun perumahan, Jakarta membutuhkan keseimbangan. Sebab, segala sesuatu bagai tiada ujung pangkalnya.

TITIK tolak terhadap kondisi Jalan Sudirman, Bundaran Hotel Indonesia (HI), dan MH Thamrin pun tidak luput dari perhatian para seniman dan arsitek lewat karya-karya mereka. Mulai dari potret hingga maket untuk membantu imajinasi juga ditampilkan.

Budi Pradono dan Irwan Ahmet menampilkan tajuk “Matrix Jakarta 2004″. Suasana Jakarta di malam hari, lengkap dengan bus Transjakarta yang sedang diluncurkan Gubernur Sutiyoso tampak sedang diabadikan seorang fotografer.

Sekali lagi, kemacetan digambarkan secara apik. Sorot lampu kendaraan dan lampu penerang jalan mampu memberikan pesan yang lugas. Padahal, gambar itu cuma salah satu cuplikan dari sebuah video kehidupan sehari-hari.

Kolaborasi itu ingin menampilkan Jakarta dalam imajinasi yang terukur, lengkap dengan fenomena kepadatan, kemacetan, dan polusi udara. Rata-rata pekerja di jalur Sudirman- Thamrin bertempat tinggal jauh. Terdekat paling tiga kilometer, sedangkan terjauh 48 kilometer.

Dengan begitu, kita sadar bahwa para commuter harus bangun sangat pagi untuk berangkat kerja dan pulang malam sekali. Problem kaum urban muncul mulai dari bagaimana menghadapi kemacetan lalu lintas, boros energi, hidup tidak efisien, dan sebagainya.

Di tengah suguhan kepenatan lalu lintas Jakarta, ternyata pameran itu juga ingin menyajikan imajinasi, bagaimana masyarakat bisa ikut berperan serta dalam menata kawasan Bundaran HI.

Evolusi Bundaran HI menjadi tempat yang hidup dengan keragaman kegiatan warga, seperti dimulai sejak gerakan reformasi tahun 1997, perlu dilanjutkan. Bukan dihentikan dengan paksaan oleh bentuknya sekarang ini, yang sengaja dibuat anti-demokrasi oleh kekuasaan dan profesional yang miskin wawasan.

Dalam maket itu, Bundaran HI yang sekarang ini secara riil dijadikan kolam lengkap semburan air mancur diimajinasikan secara apik. Permukaan kolam itu diturunkan lagi serupa “undak-undakan” sehingga setiap pejalan kaki dapat masuk dan berjalan-jalan melalui terowongan yang sudah dipersiapkan.

Terowongan di bawah Bundaran HI diyakini akan menghilangkan konflik berlalu lintas. Keadaan ini akan meningkatkan intensitas dan keragaman kegiatan warga, tanpa mengganggu lalu lintas di sekitarnya.

Namun, sebagaimana diungkapkan oleh perancang imajinasi itu, pesan paling penting adalah apa pun upaya mengubah ruang khalayak yang merupakan ikon Jakarta dan gerakan reformasi ini haruslah melibatkan masyarakat.

Seorang kurator, Rifky Effendy, mengatakan, ajakan untuk membayangkan Jakarta paling tidak membuat semua orang berpikir kritis dan tergerak untuk sama-sama berpartisipasi dalam membangun Ibu Kota Negara ini.

“Masalahnya sekarang, apakah warga betul-betul pernah diajak untuk berpartisipasi oleh pemerintah dalam menata ruang publik?” tanya Rifky. (STEFANUS OSA TRIYATNA)

Leave a Reply